Selasa, 17 Februari 2015

AGAMA adalah WAY OF LIFE


AGAMA adalah WAY OF LIFE

Manusia, makhluk yang unik. Dibanding makhluk lainnya, manusia termasuk yang paling istimewa. Diciptakan dalam sebaik-baik bentuk secara fisik. Dan dibekali pula dengan akal atau hati nurani. Maka jadilah manusia memiliki kemampuan untuk bisa bertahan hidup menghadapi berbagai macam tantangan permasalahan kehidupan dunia, sekaligus memiliki pula kemauan dan kehendak bebas untuk memberikan makna dan warna di dalam menjalani hidupnya. Mampu menguasai dan mengelola alam di sekitarnya dalam batas-batas tertentu, menjelajahi bumi dari ujung ke ujung lainnya, dan meninggalkan jejak dan menorehkan warna-warni dalam sejarah peradaban di dunia. Entah baik atau buruk.

Nah, selain menjadikan dunia dengan seluruh perlengkapannya sebagai lahan dan medan hidup bagi manusia beserta makhluk melata lainnya, rupanya Sang Pencipta Alam semesta ini juga memberikan Aturan Main-Nya, berisikan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan petunjuk bagaimana cara terbaik dan termudah manusia memanfaatkan segala sumber dayanya dan sumber daya alamnya untuk menjalani kehidupannya dengan sebaik-baiknya; demi mencapai tujuan diciptakannya mereka yang sangat sementara di dunia ini.

Inilah yang biasa kita sebut dengan Agama, atau ad-Diin. Ya, agama adalah pandangan hidup, atau jalan hidup. Istilah kerennya; Way of Life.
Yaitu bagaimana cara kita menjalani hidup, mengetahui mana yang baik bermanfaat dan mana yang buruk membahayakan, ada rangkaian aturan perintah dan larangan, yang wajib dilakukan, yang  boleh untuk dilakukan, yang sebaiknya dilakukan atau ditinggalkan. Intinya; adalah panduan lengkap bagaimana caranya manusia menjalani kehidupan dan mendapatkan kebahagian yang sejati.

Secara naluriah setiap manusia punya Way of Life-nya sendiri-sendiri. Suka tidak suka, mau tidak mau, semua manusia butuh way of life. Apakah dia seorang Hindu, Budha, Yahudi, Katolik atau Kristen, dan Islam. Atau pemeluk agama kecil lainnya yang banyak tersebar di dunia, seperti; Sikhisme, Shinto, Taoisme, Khong Hucu, Juche, Baha’i, dan lainnya.
Bahkan aliran yang anti agama dan anti Tuhan sekalipun (Humanisme; Komunisme, Sekulerisme, Agnostik atau Ateis) sebenarnya juga merupakan suatu Way of Life tersendiri bagi penganut-penganutnya.


Jadi masalahnya sekarang adalah; apakah pilihan way of life kita selama ini sudah terbukti benar membuat hidup kita bahagia, merdeka serta bermakna, atau justru sebaliknya?

Kamis, 19 September 2013

JENDELA DUNIAKU

Bismillah, 

Dengan menyebut Asma Allah Pencipta Alam Semesta dan Seisinya, 
aku mulai menulis di Blog pertamaku; yang berhasil kudaftarkan dan masuki dengan bantuan salah seorang saudara seperjuangan. Syukron, bro!

Sejak kecil aku paling suka membaca, membaca apa saja. Sejak TK rasanya sudah biasa membolak-balik halaman majalah. Yang paling kuingat adalah dulu kami sekeluarga langganan sebuah majalah anak-anak bergambar yang lumayan terkenal pada saat itu. Juga majalah bulanan kesayangan Ibundaku yang banyak gambar-gambarnya. Entahlah, apakah majalah-majalah itu masih ada sekarang.

Lalu terus berkembang ketika sekolah di sebuah SD di dekat 'Gunung Tidar' di Magelang sebuah kota kecil di jantung pulau Jawa, setiap mau pulang sekolah paling suka 'walaupun hanya sebentar' masuk ke perputakaan sekolah. Kebanyakan yang kubaca adalah cerita-cerita legenda rakyat atau kisah si Kancil, dan yang sejenisnya. Meskipun adapula cerita dari buku Agama, yang sampai sekarangpun aku masih sangat ingat dengan kisah itu; tentang seorang pendeta dari Bani Israil yang sangat saleh dan taat, namun akhirnya terjatuh ke dalam dosa yang seburuk-buruknya akibat tipu daya setan melalui seorang gadis yang masih suci.

Semakin kuat minat membaca saat berada di jenjang SMP. Tepatnya di sebuah SMP Negeri favorit di pinggiran Rawa Pening di Ambarawa, Kab. Semarang, Jawa Tengah. Waktu istirahatku sebagian besar kuhabiskan di perpus sekolah. Bacaanku pun mulai beragam dan lebih serius ketika itu. Ada majalah pelajar MOP, koran harian regional dan nasional, majalah TRUBUS, dan bermacam komik serta novel. Namun mulai menyukai tema-tema kepahlawanan dan perjuangan.

Nah saat SMA-lah rasanya masa paling penting dan berkesan dalam perjalanan aktivitas bacaku. Yaitu saat aku pinjam dari perpustakaan SMANSa Temanggung sebuah kitab hadist, Kitab Shahih Muslim. Sejak saat itulah pandanganku terhadap dunia sekitar sedikit banyak mulai lebih kritis dan cermat. Betapa banyaknya perbedaan dan pertentangan antara apa yang dilakukan masyarakat umum dengan apa yang dituntunkan Kitab Suci Al-Qur'an dan Kitab Hadist.

Terlebih pada saat kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara / PRODIP III di seberang jalan Real Estate Bintaro, Jaksel di pertengahan dekade 1990-an dulu. Manhaj yang kutempuh di dunia baca makin menguat.